Minggu, 09 September 2018

Sentimentil


September dibuka dengan hari yang cukup sentimentil. Hujan di tanggal satu yang intensitasnya rada lama. Membuatku semakin posesif pada selimut, bantal, dan guling yang berada dalam rengkuhan. Tak ingin rasanya hari beranjak  siang dari pagi yang sebegitu menyenangkan ini dan ingin rasanya kubungkam saja bunyi jam dinding yang ketukannya mengalun-alun di udara. Aduh, memang rasanya tidur mendekam seperti kucing buduk adalah pilihan yang paling tepat. Apalagi kalau setelahnya sudah tersedia semangkuk indomie rebus panas kopyok telur yang di atasnya penuh suiran sawi hijau, juga bau harum kopi yang mengudara. Ah....biar saja ya menyebut merek hihi...

Kemarin itu, sebenarnya aku cukup kaget karena hujan yang sekonyong-konyong itu sudah hadir menyambut pagi. Langit sudah basah dan tanah menjadi sangat becek berwarna coklat tua. Dedauan pun menjadi terlihat lebih hijau dari biasanya dan tangkainya berayun-ayun mesra dibelai angin. Rasanya anggun sekali. Sangat sentimentil.

Belum juga rasanya genting yang kami perbaiki sukses tertutup rapat, memblokir jalur-jalur tikus turun dari atap dan berpesta pora mengobrak-abrik karung yang berisi beras yang ujungnya selalu lupa untuk kututup. Namun ternyata sudah ada saja jadwal hujan yang seperti menghapus panas sepanjang Agustus. Meski demikian, sepertinya aku tak pernah sanggup membenci hujan, bahkan boleh jadi aku justru mengaguminya.

Benar kata orang, hujan itu berkah. Tak pernah ada perasaan yang semenentramkan ini selain mendengar bunyi tik tik tik yang teratur namun bisa sepanjang hari di luar jendela sana. Yah, Asal jangan sampai overload saja, hehe. 

Suatu hari, di awal bulan yang berakhiran ber....